Selasa, 19 Maret 2013

ANATOMI DASAR KURIKULUM



                 Kurikulum dapat diumpamakan sebagai suatu organisme manusia ataupun binatang, yang memiliki susunan anatomi tertentu. Unsur atau komponen – komponen dari anatomi tubuh kurikulum yang utama adalah: tujuan, isi, materi, proses atau sistem penyampaian dan media, serta evaluasi. Keempat komponen tersebut berkaitan erat satu sama lain . Suatu kurikulum harus memiliki kesesuaian atau relevansi. Kesesuaian ini meliputi dua hal. Pertama kesesuaian antara kurikulum dengan tuntutan, kebutuhan, kondisi, dan perkembangan masyarakat. Kedua kesesuaian antar komponen – komponen kurikulum, yaitu isi sesuai dengan tujuan, proses sesuai dengan isi dan tujuan, demikian juga evaluasi sesuai dengan proses, isi dan tujuan kurikulum. Istilah kurikulum dapat mengacu kepada pengertian yang amat luas atau sebaliknya sangat sempit. Dalam pengertian luas kurikulum mengacu pada program pengajaran pada suatu jenjang pendidikan tertentu. Sebaliknya, dalam pengertian sempit kurikulum dapat mengacu ke program pengajaran suatu mata pelajaran. Baik dalam pengertian luas maupun sempit, kurikulum harus memiliki kesesuaian yang bersifat eksternal (tuntutan masyarakat) dan internal (antarkomponen kurikulum). Komponen-komponen tersebut adalah tujuan, isi atau materi, proses penyampaian, dan evaluasi.
LATAR BELAKANG
            Dari waktu ke waktu tuntutan, kebutuhan, dan kondisi masyarakat terus berkembang. Perkembangan itu terjadi pada berbagai bidang kehidupan baik yang bersifat materiil maupun immateriil. Yang bersifat materiil misalnya gaya hidup, pakaian, dan makanan; sedangkan yang bersifat immateriil misalnya pergeseran nilai-nilai, norma, dan sikap. Semua perubahan tersebut tentu akan berpengaruh pada dunia pendidikan secara keseluruhan. Kurikulum sebagai salah satu subsistem dalam pendidikan mau tidak mau harus berubah agar tetap sesuai dengan perkembangan yang sedang terjadi. Kurikulum harus mampu menjadi “sangkar” bagi sistem nilai yang akan dipelihara dan diteruskan kepada generasi muda. Kurikulum harus dapat memberikan pengalaman belajar yang  sesuai dengan perkembangan kepada siswa. Dalam konteks inilah komponen-komponen kurikulum membentuk hubungan kausalitas dengan berbagai perkembangan yang terjadi di dalam masyarakat. Dalam proses belajar-mengajar terdapat tiga komponen  yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Ketiga komponen tersebut adalah tujuan pengajaran, proses belajar-mengajar, dan evaluasi. Tujuan pengajaran yang ingin dicapai akan menentukan materi apa yang akan diajarkan, metode atau cara apa yang akan digunakan, dan media apa yang sesuai. Pengembangan kurikulum sendiri mempunyai arti yaitu suatu proses perencanaan kurikulum agar menghasilkan rencana kurikulum yang luas dan spesifik. Proses ini berhubungan dengan seleksi dan pengorganisasian berbagai komponen situasi belajar – mengajar, antara lain penetapan jadwal pengorganisasian kurikulum dan spesifikasi tujuan yang disarankan, mata pelajaran, kegiatan, sumber dan alat pengukur pengembangan kurikulum yang mengacu pada kreasi sumber-sumber unit, rencana unit, dan garis pelajaran kurikulum ganda lainnya, untuk memudahkan proses belajar mengajar.

B. PEMBAHASAN
a. Tujuan Kurikulum
Dikemukakan bahwa dalam kurikulum atau pengajaran, tujuan memegang peranan penting, akan mengarahkan semua kegiatan pengajaran dan mewarnai komponen – komponen kurikulum lainnya. Tujuan kurikulum dirumuskan berdasarkan dua hal. Pertama perkembangan tuntutan, kebutuhan dan kondisi masyarakat. Kedua, didasari oleh pemikiran –pemikiran dan terarah pada pencapaian nilai – nilai filosofis, terutama falsafah negara. Beberapa kategori tujuan pendidikan, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus, jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek. Kurikulum aims merupakan rumusan yang menggambarkan outcomes yang diharapkan berdasarkan beberapa skema nilai diambil dari kaidah-kaidah filosofis. Aims ini tidak berhubungan secara langsung terhadap tujuan sekolah dan tujuan pembelajaran. Goals merupakan outcomes sekolah yang dapat dirumuskan secara institutional oleh sekolah atau jenjang pendidikan tertentu sebagai suatu sistem. Objectives merupakan outcomes yang diharapkan dapat tercapai dalam jangka waktu pendek, segera setelah proses pembelajaran dikelas berakhir, dapat dinilai setidaknya secara teoritis dalam jangka waktu tertentu. Terdapat tiga sumber yang mendasari perumusan tujuan kurikulum (aims, goals, objectives), yaitu sebagai berikut :
1.    Sumber Empiris
Sumber empiris berkaitan dengan beberapa hal. Pertama, tuntutan kehidupan masa kini yang dapat menjadi sumber informasi dan berperan sebagai landasan dikembangkannya tujuan-tujuan dalam kurikulum. Herbert spencer (1879) menyatakan bahwa terdapat lima hierarki yang harus dipersiapkan oleh siswa untuk mencapai keberhasilan hidup, yaitu ( 1)) pemeliharaan diri secara langsung; (2) pemeliharaan diri secara tidak langsung (melalui makanan, keamanan, perlindungan, dll); (3) kedudukan sebagai orang tua; (4) kewarganegaraan; (5) aktifitas yang dilakukan pada waktu senggang. Sumber empiris kedua adalah yang mendasari perumusan aims, goals, dan objectives, yaitu karakteristik siswa sebagai individu yang sedang berkembang secara dinamis dan memiliki kebutuhan fisiologis, sosial, dan keutuhan pribadi. Kebutuhan dasar ini dapat dijadikan dasar dalam pengembangan kurikulum selama individu diasumsikan sebagaimana apa adanya dan mempunyai pembawaan yang baik serta individu menjadi pusat aktivitas pendidikan.
2.    Sumber Filosofis
Sumber filosofis ini menjadi acuan dalam mencari jawaban tentang apa yang harus dilakukan sehingga pendidikan dapat menjembatani keberhasilan para siswa. Selain itu, kaidah-kaidah filosifis dapat dijadikan sebagai acuan dalam menganalisis, mengambil keputusan, atau berbagai pertimbangan, dan merumuskan hasil yang diharapkan sesuai dengan kondisi yang ada.
3.    Sumber Bahan Pembelajaran
sumber bahan pembelajaran merupakan sumber yang umum digunakan dalam merumuskan aims, goals, dan objectives dalam kurikukum sekolah, tepatnya pelibatan ahli disiplin ilmu atau pengetahuan tertentu dalam merumuskan tujuan. Menurut zais (1976) penggunaan materi pembelajaran sebagai sumber perumusan objectives dinilai khusus, sempit, dan bersifat teknik. Dengan demikian, subjek matter dalam khasus-khasus tertentu hanya dapat digunakan sebagai sumber untuk merumuskan tujuan yang kedudukannya lebih rendah dari pada goals dan objectives.

b. Hirarkhial Belajar
            Belajar harus berangkat dari hal-hal yang sederhana menuju hal- hal yang lebih kompleks. Oleh karena, urutan harus sesuai dengan apa yang diketahui dari teori – teori belajar. Secara berangsur –angsur dimullai dengan mempelajari konstruk (construct) dan prisnsip-prinsip berdasarkan data dan konsep. Pengertian secara keseluruhan dari suatu konstruk itu akan muncul kalau itu akan muncul kalau itu dipresentasikan secara sistematik dan analitis. Akan lebih baik kalau urutan kurikulum didasarkan pada hasil-hasil kajian empiris yang memberikan pengertian tentang kondisi apa yang dapat menumbuhkan belajar.
Perumusan tujuan mengajar yang berbentuk tujuan khusus (objective), memberikan beberapa keuntungan:

a)    Tujuan khusus memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatan mengajar-belajar kepada siswa. Berdasarkan penelitian Mager dan Clark (1963) siswa yang mengetahui tujuan – tujuan khusus suatu pokok bahasan, diberika referensi dan sumber yang memadai, dapat belajar sendiri dalam waktu setengah dari waktu belajar dalam kelas biasa.
b)    Tujuan khusus, membantu memudahkan guru – guru memilih dan menyusun bahan ajar.
c)    Tujuan khusus memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan media mengajar.
d)    Tujuan khusus memudahkan guru mengadakan penilaian. Dengan tujuan khusus guru lebih mudah menentukan bentuk tes, lebih mudah merumuskan butir tes dan lebih mudah menentukan kriteria pencapaiannya.

c. Domain KOGNITIF :
  1. Knowledge : kemampuan mengingat kembali materi yang baru dipelajari (recall). Contoh : mengulang kembali, mendefinisi
  2. Comprehension : kemampuan untuk menangkap makna materi belajar. Contoh : mengilustrasikan, menggambarkan
  3. Application : kemampuan memanfaatkan materi belajar dalam situasi yang baru/konkrit. Contoh : menggunakan, mempraktekkan
  4. Analysis : kemampuan untuk memilah/membagi materi ke dalam komponen-komponen sehingga struktur organisasinya dapat dipahami. Contoh : membandingkan, mendeteksi
  5. Synthesis : kemampuan untuk membentuk satu kesatuan yang baru. Contoh : memformulasikan, memprediksi
  6. Evaluation : kemampuan mempertimbangkan aspek nilai (value) dalam materi belajar. Contoh: mempertimbangkan, memutuskan

d. Domain AFEKTIF :
  1. Receiving : merujuk kepada kepekaan siswa terhadap stimulus, kemauan untuk menerima. Contoh: memperhatikan, menerima
  2. Responding : merujuk kepada perhatian aktif siswa terhadap stimulus, kemauan untuk merespon atau memberi perhatian. Contoh: menikmati, memberi kontribusi, kerjasama
  3. Valuing : merujuk kepada keyakinan dan sikap, komitmen. Contoh: menghormati, mempertimbangkan
  4. Organization : merujuk kepada internalisasi nilai dan keyakinan yang melibatkan konseptualisasi nilai dan organisasi sistem nilai. Contoh : mengklarifikasi, menguji
  5. Characterization : merujuk kepada internalisasi dan perilaku yang merefleksikan seperangkat nilai dan karakteristik filosofi kehidupan (penjatidirian). Contoh : menyimpulkan, menetapkan.
e. Domain PSYCHOMOTOR :
  1. Reflex movements : refleks yang melibatkan satu segmen otot dan memungkinkan keterlibatan lebih dari satu segmen otot
  2. Fundamental movements : keterampilan gerak yang berhubungan dengan berjalan, berlari, melompat, menekan
  3. Perceptual abilities : ditujukan kepada keterampilan yang berhubungan dengan koordinasi pergerakan tubuh, visual, auditori
  4. Physical abilities : berkenaan dengan daya tahan, fleksibilitas, ketangkasan, kekuatan, kecepatan
  5. Skilled movements : merujuk kepada ketangkasan permainan, olahraga
  6. Nondiscursive communication : merujuk kepada ekspresi gerakan yang disesuaikan dengan postur, ekspresi wajah, gerakan-gerakan kreatif (nondiscursive = tidak menyimpang)

f.  Smarter :
1. Smarter terdiri dari tujuh bagian yaitu :
         Specific:
contoh :
lebih baik menggunakan kata siswa mampu menulis ketimbang siswa dapat bekerja keras
         Measurable:
contoh : siswa mampu menulis sebanyak 1 halaman
         Acceptable:
perhatikan apakah pernyataan tujuan dapat diterima, contoh : siswa mampu menulis sebanyak 1 halaman untuk siswa kelas 2 SD
         Realistic:
meskipun tujuan sudah terukur dan dapat diterima, masih harus dipertimbangkan apakah pernyataan tujuan realistik, contoh : menulis sebanyak 1 halaman dalam waktu 5 menit

-                                       Time frame :
Dalam time frame perlu diperhatikan kerangka waktu yang diajangkan dalam pernyataan tujuan
-                                       Extending
Kalimat tujuan harus memperlihatkan pengembangan kapabilitas siswa. Apakah menulis 1 halaman tersebut mampu mengembangkan kapabilitas menulis siswa
-       Rewarding
perhatikan apakah pernyataan tujuan mampu memberikan nilai lebih kepada siswa

2.         Bahan Ajar
Siswa belajar dalam bentuk interaksi dengan lingkungannya, lingkungan orang - orang, alat – alat dan ide – ide. Tugas utama seorang guru adalah menciptakan lingkungan tersebut, untuk mendorong siswa melakukan interaksi yang produktif dan memberikan pengalaman belajar yang dibutuhkan. Kegiatan dan lingkungan demikian dirancang dalam suatu rencana mengajar, yang mencakup komponen – komponen: tujuan khusus, sekuens bahan ajaran, strategi mengajar, media dan sumber belajar, serta evaluasi hasil belajar.
Untuk mencapai tiap tujuan mengajar yang telah ditentukan diperlukan bahan ajar. Bahan ajar tersusun atas topik – topik dan sub – subtopik tertentu. Tiap topik atau subtopik mengandung ide – ide pokok yang relevan dengan tujuan yang telah ditetapkan. Topik – topik atau sub – subtopik tersebut tersusun dalam sekuens tertentu yang membentuk suatu sekuens bahan ajar. Ada beberapa cara untuk menyusun sekuens bahan ajar, yaitu:
a)    Sekuens kronologis. Untuk menyusun bahan ajar yang mengandung urutan waktu, dapat digunakan sekuens kronologis. Peristiwa – peristiwa sejarah, perkembangan historis suatu institusi, penemuan – penemuan ilmiah dan sebagainya dapat disusun berdasarkan sekuens kronologis.
b)    Sekuens kausal. Masih berhubungan erat dengan sekuens kausal. Siswa dihadapkan pada peristiwa-peristiwa atau situasi yang menjadi sebab atau pendahulu dari sesuatu peristiwa atau situasi lain. Dengan mempelajari sesuatu yang menjadi sebab atau pendahulu para siswa akan menemukan akibatnya. Menurut Rowntree (1974: 75) “sekuens kausal cocok untuk menyusun bahan  ajar dalam bidang meteorology dan geomorfologi.
c)   Sekuens struktural. Bagian-bagian bahan ajar suatu bidang studi telah mempunyai struktur tertentu. Penyusunan sekuens bahan ajar bidang studi tersebut perlu disesuaikan dengan strukturnya. Dalam fisika tidak mungkin mengajarkan alat – alat optik, tanpa terlebih dahulu mengajarkan pemantulan dan pembiasan cahaya, dan pemantulan serta pembiasan cahaya tidak mungkin diajarkan tanpa terlebih dahulu mengajarkan masalah cahaya. Masalah cahaya, pemantulan-pembiasan, dan alat – alat optik tersusun secara struktural.
d)  Sekuens logis dan psikologis. Bahan ajar juga dapat disusun berdasarkan urutan logis. Rowntree (1974: 77) melihat perbedaan antara sekuens logis dengan psikologis. Menurut sekuens logis bahan ajar dimulai dari bagian menuju pada keseluruhan, dari yang sederhana kepada yang komplek, tetapi menurut sekuens psikologis sebaliknya dari keseluruhan kapada bagian, dari yang komplek kepada yang sederhana. Menurut sekuens logis bahan ajar disusun dari yang nyata kepada yang abstrak, dari benda – benda kepada teori, dari fungsi kepada struktur, dari masalah bagaimana kepada masalah mengapa.
e)    Sekuens spiral, dikembangankan oleh Burner (1960).  bahan ajar dipusatkan pada topik atau pokok bahan tertentu. Dari topik atau pokok tersebut bahan diperluas dan diperdalam. Topik atau pokok bahan ajar tersebut adalah sesuatu yang populer dan sederhana, tetapi kemudian diperluas dan diperdalam dengan bahan yang lebih kompleks.
f)     Rangkaian ke belakang, atau yang lebih dikenal dengan backward claining. Dikembangkan oleh Thomas Gilbert (1962). Dalm sekuens ini mengajar dimulai dengan langkah terakhir dan mundur ke belakang. Contoh, proses pemecahan masalah yang bersifat ilmiah, meliput 5 langkah, yaitu: (a) Pembatasan masalah, (b) Penyusunan hipotesis, (c) Pengumpulan data, (d) Pengetesan hipotesis, (e) Interprestasi hasil tes.
g)    Sekuens berdasarkan hierarki belajar. Model ini dikembangkan oleh Gagne (1965), dengan prosedur sebagai berikut: tujuan – tujuan khusus utama pembelajaran dianalisis, kemudian dicari suatu hierarki urutan bahan ajar untuk mencapai tujuan – tujuan tersebut. Hierarki tersebut menggambarkan urutan perilaku apa yang mula – mula harus dikuasai siswa, berturut – turut sampai dengan perilaku terakhir. Untuk bidang studi tertentu dan pokok – pokok bahasan tertentu hierarki juga dapat mengikuti tipe – tipe belajar dari Gagne.
3.    Strategi mengajar
Penyusunan sekuens bahan ajar berhubungan erat dengan strategi atau metode mengajar. Pada waktu guru menyusun sekuens bahan ajar, kemudian juga harus memikirkan strategi mengajar mana yang sesuai untuk menyajikan bahan ajar dengan urutan yang sesuai. Ada beberapa strategi yang dapat digunakan dalam mengajar :
a)      Reception/Exposition Learning – Discovery Learning
Reception dan exposition sesungguhnya mempunyai makna yang sama, hanya berbeda dalam pelakunya. Reception learning dilihat dari sisi siswa sedangkan exposition dilihat dari sisi guru. Dalam exposition  atau reception  learning keseluruhan bahan ajar disampaikan kepada siswa dalam bentuk akhir atau bentuk jadi, baik secara lisan maupun secara tertulis. Siswa tidak dituntut untuk mengolah kata melakukan aktivitas lain kecuali menguasainya. Dalam discovery learning
Bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir, siswa dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi, membandingkan,mengkategorikan,menganalisis,mengintegrasikan, mengorganisasikan bahan serata membuat kesimpulan – kesimpulan. Melalui kegiatan – kegiatan siswa akan menguasainya, menerapkan, serta menemukan hal – hal yang bermanfaat bagi dirinya.
b)        Rote learning – Meaningful Learning
Dalam rote learning bahan ajar disampaikan kepada siswa tanpa memperhatikan arti atau maknanya bagi siswa. Siswa menguasai bahan ajar dengan menghafalkannya. Dalam meaningful learning penyampaian bahan mengutamakan maknanya bagi siswa
c)        Group Learning – Individual Learning
Pelaksanaan discovery learning menuntut aktifitas belajar yang bersifat individual atau dalam kelompok – kelompok kecil. Discovery Learning dalam bentuk kelas pelaksanaannya mempunyai beberapa masalah. Masalah pertama, kegiatan discovery hanya akan dilakukan oleh siswa – siswa yang pandai dan cepat, siswa yang lambat akan mengikuti saja kegiatan dan menerima temuan – temuan anak – anak cepat. Masalah lain adalah kemungkinan untuk bekerja sama, dalam kelas besar tidak mungkin semua akan dapat bekerja sama. Kerja sama hanya akan dilakukan oleh anak – anak yang aktif, yang lain mungkin hanya akan menanti atau menonton. Dengan demikian akan terjadi perbedaan semakin jauh antara anak pandai dengan yang kurang.
4.    Media mengajar
Media mengajar merupakan segala macam bentuk perangsang dan alat yang disediakan guru untuk mendorong siswa belajar. Perumusan di atas menggambarkan pengertian media yang cukup luas, mencakup berbagain bentuk perangsang belajar yang sering disebut sebagai audio visual aid, serta berbagai bentuk alat penyaji perangsang belajar, berupa alat – alat elektronika seperti mesin pengajaran, film, audio cassete, video cassete, televisi, dan komputer.
5.    Evaluasi pengajaran
Komponen utama selanjutnya setelah rumusan masalah, bahan ajar, strategi mengajar, media mengajar adalah evaluasi dan penyempurnaan. Evaluasi ditujukan untuk menilai pencapaian tujuan – tujuan yang telah ditentukan serta menilai proses pelaksanaan mengajar secara keseluruhan. Setiap kegiatan akan memberikan umpan balik, demikian juga dalam pencapaian tujuan – tujuan belajar dan proses pelaksanaan mengajar. Umpan balik tersebut digunakan untuk mengadakan berbagai usaha penyempurnaan baik bagi penentuan dan perumusan tujuan mengajar, penentuan sekuens bahan ajar, strategi, dan media mengajar.
6.    Penyempurnaan pengajaran
Hasil – hasil evaluasi, baik evaluasi hasil belajar, maupun evaluasi pelaksanaan mengajar secara keseluruhan, merupakan umpan balik bagi penyempurnaan – penyempurnaan lebih lanjut. Komponen apa yang disempurnakan, dan penyempurnaan itu dilaksanakan. Sesuai dengan komponen – komponen yang dievaluasi, pada dasarnya semua komponen – komponen yang dievaluasi, pada dasarnya semua komponen mengajar mempunyai kemungkinan untuk disempurnakan. Penyempurnaan juga dilakukan secara langsung begitu didapatkan sesuatu informasi umpan balik, atau ditangguhkan sampai jangka waktu tertentu bergantung pada urgensinya dan kemungkinannya mengadakan penyempurnaan. Penyempurnaan mungkin dilaksanakan sendiri oleh guru, tetapi dalam hal – hal tertentu mungkin dibutuhkan bantuan atau saran – saran orang lain baik sesama personalia sekolah atau ahli pendidikan dari luar sekolah. Penyempurnaan juga mungkin bersifat menyeluruh atau hanya menyangkut bagian – bagian tertentu. Semua hala tersebut bergantung pada kesimpulan – kesimpulan hasil evaluasi.

C. Kesimpulan
Anatomi kurikulum merupakan kurikulum yang dapat diumpamakan sebagai suatu organisme manusia ataupun binatang, yang memiliki susunan anatomi tertentu. Unsur atau komponen – komponen dari anatomi tubuh kurikulum yang utama adalah: tujuan, isi, materi, proses atau sistem penyampaian dan media, serta evaluasi. Keempat komponen tersebut berkaitan erat satu sama lain . Suatu kurikulum harus memiliki kesesuaian atau relevansi. Kesesuaian ini meliputi dua hal. Pertama kesesuaian antara kurikulum dengan tuntutan, kebutuhan, kondisi, dan perkembangan masyarakat. Kedua kesesuaian antar komponen – komponen kurikulum, yaitu isi sesuai dengan tujuan, proses sesuai dengan isi dan tujuan, demikian juga evaluasi sesuai dengan proses, isi dan tujuan kurikulum.













  1. Daftar Rujukan

Nana Syaodih Sukmadinata, Prof.Dr. 1997. Pengembangan kurikulum teori dan praktek . Bandung
Mohammad Ansyar, Ph.D. 1998. Dasar – dasar pengembangan kurikulum . Jakarta
Oemar Hamalik, Prof.Dr.H. 2008. Dasar – dasar pengembangan kurikulum . Bandung
Pusat Pengembangan Kurikulum. 2003. Kurikulum 2004 Kerangka Dasar (draft). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
http://pendmtkuin07.files.wordpress.com/
http://ifunpas.org/
http://curriculumstudy.files.wordpress.com/
http://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/
http://www.diknas.go.id/

Poskan Komentar